Gunung Wayang untuk Pendaki Pemula
Liburan, merupakan momen yang paling dinantikan bagi saya –yang notabene adalah seorang mahasiswa perantau–, juga teman-teman pembaca sekalian pastinya. Liburan banyak dijadikan ajang untuk berkumpul dengan keluarga untuk melepas rindu, traveling sambil mencicipi kuliner sekitar untuk melepas penat hiruk pikuk kota, atau mengistirahatkan diri dengan bergoleran manja di pulau kapuk yang HTMnya relatif murah (Halo sobat rebahanque!)
Tapi pagi ini berbeda, saya telah siap di ruang tamu rumah nenek saya yang beralamat di Desa Jatiroto, Lumajang untuk bertolak ke Candipuro. Beberapa hari lalu saya dan sejumlah kawan berencana mengunjungi Gunung Wayang. Perjalanan kali ini hanya diikuti oleh enam orang, tepat pukul 10.00 dengan tiga motor berboncengan kami berangkat.
Perjalanan menuju Gunung Wayang yang terletak di Desa Sumber Mujur, Kecamatan Candipuro, Kecamatan Lumajang ini relatif lancar. Hambatan kami temui setelah meninggalkan jalan raya dan memasuki jalan desa. Diluar ekspektasi, saya pikir hanya Jakarta dan Jalan Pasar Minggu yang bisa macet, nyatanya Candipuro yang memiliki banyak destinasi wisata ini bisa macet juga. Yaa! Lumajang memang sedang gencar mempromosikan keindahan panorama alamnya sebagai objek pariwisata, seperti di Desa Sumberwuluh ini kalian bisa mengunjungi pemandian alam, Gunung Wayang juga Hutan Bambu dalam satu kali perjalanan. Dapat saya simpulkan kemacetan yang terjadi disebabkan oleh antusiasme masyarakat untuk menjajal wisata alam Candipuro yang sangat tinggi, sehingga volume kendaraan yang melewati jalan di desa tersebut juga melonjak padat.
Akses menuju gunung wayang tergolong cukup mudah, tidak memerlukan motor atau mobil dengan spesifikasi khusus seperti wisata puncak B29, karena sepengalaman saya motor bebek dan motor matic mampu mengantarkan anda hingga tempat parkir yang disediakan pihak pengelola wisata tersebut. Sepanjang perjalanan anda akan menemui pemandangan yang rindang. Sawah-sawah dengan padi yang menguning (kalo lagi panen) tanaman terong, tomat dan cabai, kerbau milik petani, merdu suara gemericik air mengalir dan semilir angin sejuk hawa pegunungan. Eits! Jangan khawatir, di kanan kiri jalan banyak bapak-ibuk penjual bakso yang siap menghangatkanmu kalau kedinginan. Pentol dan sedap kuah panasnya siap dijadikan pelampiasan keganasan saat lapar dan dingin menggerayangi tubuhmu.
Waktu tempuh yang dibutuhkan dari Lumajang Kota hingga Gunung Wayang normalnya satu hingga dua jam. Sangat disayangkan, hari itu langit sedang tidak mau berkompromi, hujanpun menderas, mengharuskan kami menepi. Berhentilah kami di sebuah mushola umum untuk berteduh sekaligus melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Perjalanan dilanjutkan kembali setelah hujan reda. Tepat pukul 01.30 kami sampai di tempat parkir area Gunung Wayang.
Seorang pria berkumis sangar yang lincah tanpa mengenakan alas kaki mengarahkan motor kami “Kono le, yo sebelah kono!” (Sebelah sana mas, iya sebelah sana!) serunya sambil menunjuk. Kami menurut, dan beliau menyodorkan karcis parkir bertuliskan Rp 5000,00/motor murah bukan?
Motor terparkir, helm tersimpan rapi. Petualangan penuh drama untuk mencapai puncak Gunung Wayang segera kita mulai. Sebelum melanjutkan cerita, saya hendak mendeskripsikan seperti apa Gunung Wayang. Gunung Wayang merupakan gunung kecil yang menurut saya pribadi lebih tepat untuk dipanggil bukit, karena ketinggiannya yang diestimasikan hanya sekitar 900 hingga 1000 mdpl saja. Meskipun begitu track yang akan anda lalui akan sangat melelahkan untuk pemula atau tema-teman yang tidak pernah ke puncak, naik gunung, hiking dan sebagainya. Maka dari itu, saya sangat menganjurkan pembaca untuk bersepatu lengkap, berpakaian sopan dan dapat melindungi diri. Terlebih pada musim penghujan seperti saat ini, track yang akan anda lalui akan penuh lumpur juga licin dan jangan terkejut jika anda menemukan lintah yang akrab dipanggil 'Pacet' oleh warga sekitar.
Lanjut, dari tempat parkir motor kami berjalan menuju pintu masuk bertuliskan GUNUNG WAYANG. Kami disambut ramah oleh ibu penjaga loket, membayar tiket masuk Rp 5000,00/orang yang nantinya uang tersebut akan digunakan untuk membenahi jalur pendakian ke Gunung Wayang agar lebih mudah diakses juga aman. Tak lupa si Ibuk berpesan sebelum kami meninggalkan loket “Hati-hati ya, jalannya licin!”. Hehehe terimakasih bu, Ibu ramah sekali.
Waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak bervariasi, mulai dari 20 menit hingga 1 jam tergantung kondisi jalur dan kondisi fisik si pendaki itu sendiri. Saya yang memiliki Berat Badan nyaris 80 kilo ini berhasil menaklukkan puncak selama 45 menit, dengan kombinasi track yang menanjak, hujan deras, tanpa menggunakan alas kaki. Cukup nekat, akibat salah kostum. (Note: Jangan pakai flatshoes ke Gunung/Puncak ya teman)
Dalam pendakian, saya disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa. Hujan dan kabut yang kian menebal tidak mampu menyingkap gagahnya Gunung Semeru dari mata saya. Beberapa pendaki lain yang hendak berkemah juga bercerita tentang indahnya kelap-kelip lampu kota Lumajang pada malam hari, dan pengalamannya berburu sunrise dari atas sini. Mereka juga mengaku bahwa ini kali kedua atau ketiga berkunjung ke puncak yang menurutnya memiliki tinggi yang tidak seberapa ini. "Ah ini mah kecil mbak, saya aja udah dua kali kesini. Ini ngajak temen yang lain" Ujar mas-mas berkumis semester 6 kampus IAIN Jember yang saya lupa namanya.
Sesampainya di puncak, saya mendapati tak lain dan tidak bukan kabut putih yang mengepul dan menutup habis panorama indah yang saya gadang-gadangkan. Tapi hal itu tidak menghalangi saya untuk mendapatkan foto yang kataya Instagramable hehe. Berkat kabut, pohon pinus dan tangan ajaib kawan saya, Candipuro berubah jadi Moscow, serasa sedang berlibur ke luar negeri dalam balutan musim dingin.
Kami mengabadikan moment bersama, menikmati apa yang tersisa dan masih bisa dinikmati. Subhanallah, dalam kondisi berkabut saja Lumajang indah! Piye slur? #lumajangsae
Saat teman-teman lain sibuk menghabiskan memori telepon genggamnya dengan berfoto, saya berkeliling dan menemukan beberapa sampah mie cup dan plastik lainnya. Rupanya tak jauh dari situ ada gubuk yang menyediakan mie instan, kopi dan teh, makanan ringan juga gorengan. Saya jadi penasaran, bagaimana cara bapak atau ibu tersebut membawa bahan dagangan mereka ke atas sini? Sedangkan saya yang hanya membawa diri untuk mencapai puncak ini sudah berulang berhenti untuk menghela nafas sambal bersumpah serapah untuk tidak kembali datang kesini lalu disambung dengan istighfar mengingat indahnya ciptaan Tuhan. Tapi, bagaimanapun ceritanya! pak buk teman-teman om dan tante sekalian, jangan tinggalkan sampah kalian, jangan buang sampah sembarangan, buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan.
Puas menyaksikan kabut dan berfoto, kami sepakat untuk pulang. Menuruni tangga yang terbuat dari tanah yang disangga bambu seadanya. Tak henti-hentinya saya yang gendut ini beristighfar, mesuh dan kembali istighfar akibat adrenalin yang terpacu oleh licinnya jalan yang dilalui. Khawatir tubuh ini terpeleset dan terjatuh, sebab yang dirasa bukan hanya ngilu tapi juga malu. Perjalanan pulang terasa lebih cepat dan tidak mudah, pasalnya jalanan tersebut semakin becek karena gerimis yang tetap menderas, pendaki harus extra hati-hati dalam menentukan pijakan. Salah berpijak, terpeleset, berlumpurlah pakaian kalian lebih tepatnya bagian pantat. *meringis*
Cerita liburan semester di Gunung Wayang ini kami tutup dengan segelas teh hangat manis dan semangkuk mie instan lengkap dengan irisan cabe yang dijual tidak jauh dari pintu masuk Gunung Wayang. Terima Kasih kepada pihak terkait pengalaman liburan saya kali ini.
Honor mention: Ega Setia Dewi, Rohmah Yan Elsa, M. Akrim, Rahadian Falqi
Ini cerita liburan semesterku, kamu bagaimana?
Tags:
Break

0 komentar