Africa van Java, Opsi Edukatif Liburan Keluarga
Megadiversity (Darajati et al. 2016) julukan bagi Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati tingkat tinggi. Mari sedikit mengingat pelajaran SMA! Seperti yang kalian tahu, letaknya yang berada tepat di atas garis khatulistiwa menyebabkan Indonesia mendapatkan panas matahari sepanjang tahun. Negara dengan 34 provinsi ini diapit benua Asia dan Australia, juga diapit dua samudera, Hindia dan Pasifik. Dari segi geologi Indonesia merupakan pertemuan dua lempeng benua yaitu sirkum Mediterania dan sirkum Pasifik. Kondisi ini menjadikan bumi pertiwi kaya akan bermacam ekosistem unik, baik terestial maupun akuatik.
Keanekaragaman hayati merupakan basis mendasar sebuah ekosistem, keduanya merupakan konsep yang saling terkait (Cefic 2013). Ragam hayati di penjuru kepulauan Indonesia bergantung pada kondisi dan tipe ekosistem khas tiap daerah. Seperti halnya padang savanna yang berada di Taman Nasional Baluran.
Segitu dulu bahas ekosistemnya, sekarang tebak. Dimanakah letak Taman Nasional Baluran?
![]() |
| One of Favorite Photo Spot |
Bagi teman-teman yang menyangka bahwa Baluran terletak di Banyuwangi, mari kita berpelukan. Karena saya juga beranggapan demikian. Taman Nasional seluas 250 kilometer persegi ini banyak di kampanayekan oleh Pesona Indonesia sebagai salah satu pariwisata Banyuwangi. Selain letaknya yang berdekatan dengan Banyuwangi, akses yang ditempuh juga akan lebih mudah dari Kota Banyuwangi sekitar 1 jam dari Banyuwangi kota menggunakan mobil. Sayangnya masih banyak netizen yang terkecoh, fakta lapangan yang saya temui wisata edukasi ini berlokasi tepat di wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Dijuluki sebagai Africa van Java alias Benua Afrika-nya Pulau Jawa, Taman Nasional Baluran di dominasi oleh vegetasi savanna, lengkap dengan semak, dan pohon yang mampu bertahan di wilayah kemarau semacam palem, akasia, sloben. Perjalanan dari gerbang masuk untuk ke spot savannasejauh 12 km kami tempuh ditempuh kurang lebih selama 35 menit. Selama perjalanan pengunjung diizinkan untuk berhenti untuk berfoto, memberi makan hewan, atau keperluan lainnya. Tentunya di lokasi yang tidak mengganggu kelancaran perjalanan kendaraan lain dan harus selalu berhati-hati karena bagaimanapun kita tidak tahu hewan apa saja yang akan kita jumpai disini.
20 menit di dalam mobil saya merasa jenuh, karena sisi kanan kiri saya hanya pohon dan semak-semak. Tidak satupun hewan melintas seperti ekspektasi saya selayaknya seperti yang ada di Taman Safari Indonesia 2, dimana zebra dan rusa bisa bebas menghampiri mobil sehingga pengunjung bisa berinteraksi langsung. Namun setelahnya, mata penulis dimanjakan oleh pemandangan hamparan padang savanna lengkap dengan rumput kering, tanah gersang dan monyet-monyet yang notabene jarang penulis temui. Saya juga menjumpai kerbau liar yang asik bermandikan lumpur, banteng, rusa juga kijang disini. Disebutkan oleh salah satu pengelolanya, jika beruntung saya akan mendapati merak hijau atau rangkong.
Mendengar kata merak dan rangkong yang pada hari itu tidak satupun saya jumpai, akhirnya saya mengorek informasi lebih dalam tentang flora fauna yang ada di Taman Nasional Baluran. “Data terbaru menyebutkan terdapat kurang lebih 450 jenis flora, dari bermacam-macam familia, ada tumbuhan eksotik, angrek-angrekan, tumbuhan penghasil obat, mangrove juga. Untuk faunanya sendiri selain mamalia, kita ada sekitar 200 jenis aves, ada reptil juga pisces” Jelas salah satu bapak pengelola. Si bapak juga menyodorkan buku berisi data koleksi Taman Nasional Baluran, yang membuat bulu kuduk berdiri. Karena di waktu yang tepat mungkin saja wisatawan bisa bertemu macan tutul atau ajag yang mampu mengoyak daging. Dan berakhir sisa tulang seperti tulang kerbau di belakang saya dan paman.
Beberapa spot rupanya dihias dengan tulang kepala kerbau untuk tempat berfoto. Puas berfoto kami melanjutkan perjalanan.
Setelah 10 menit perjalanan dan memarkirkan mobil, saya melanjutkan eskplorasi dengan berjalan kaki mengikuti arah para pengunjung lainnya. Alih-alih ingin memberi makan monyet, ternyata saya menemukan vegetasi lain yang tidak kalah menarik dari savanna hutan musim dan hutan pegunungan bawah yang saya temui sebelumnya. Yap! Pantai, hutan mangrove dan rawa. Otak saya yang belum berhenti mengagumi miniatur Afrika lagi-lagi dibuat takjub dan tidak percaya atas paket komplit yang disuguhkan oleh alam Baluran. Allahuakbar, bagaimana bisa setelah 15 menit iklim tandus savanna, kami menghirup bau garam dan diizinkan untuk bermain dengan ombak.
![]() |
| Vegetasi Pantai, (Lovely sissy on frame) |
![]() |
| Hutan Mangrove |
Sangat disayangkan penulis tidak membawa baju ganti pada hari itu, sehingga saya putuskan untuk sedikit menjauh dari bibir pantai dan berkeliling guna meredam kekecewaan karena tidak bisa ikut mandi air garam. Mamalia yang asik minum dari sebotol air mineral favorit saya ini cukup menghibur dan menarik perhatian saya, adalah penjambret kecil akrab dipanggil kera ekor panjang (Macaca Fascularis). Bukan hanya biscuit, es cream atau pisang, mereka bisa merampas topi atau tas milik pengunjung. Lewat tulisan ini saya hendak mengingatkan agar pembaca tidak terlena melihat tingkah lucunya, karena mereka pencuri ulung yang tidak bisa diseret ke meja hijau apalagi di dakwa atas tindak penjambretan cilok. Mengingat jumlahnya yang lumayan banyak, selain memperhatikan barang bawaan saya menegaskan agar putra-putri anda tidak lepas dari pengawasan anda, karena mereka hewan liar yang dikhawatirkan dapat menciderai.
![]() |
| Mamalia |
![]() |
| I Guess Pristine is everyone's Favorite Mineral Water |
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah pengunjung yang sedang memasang peralatan barbeque di depan pondok kecil sepanjang pesisir pantai. Entah saya yang mulai lapar atau bangunan pondok di pinggir pantai ini yang terlihat begitu indah nan asri yang jelas saya membuka pembicaraan dengan bapak-bapak paruh baya tersebut. “Biayanya relatif murah sih mbak, untuk bangun pagi dengan sunrise lengkap dengan deburan ombak. Selain itu kita orang tua bisa mengedukasi anak-anak dengan memberi makan hewan” Kata Pak Hadi, salah satu wisatawan dari Surabaya yang membawa keluarganya untuk berlibur dan bermalam di salah satu pondok yang disewakan oleh pengelola setempat. Menelaah kembali ucapan si bapak, saya merasa menginap di pondok ini adalah hal yang wajib dicoba. Fitur penginapan ini menjadikan Pantai Bama serasa private beach.
Perasaan aneh menghampiri saya saat hendak bertolak pulang ke Lumajang. Ketika melewati gerbang pintu masuk Taman Nasional Baluran rasa tidak nyaman, gusar dan sedih meluap, mengingat domisili saya adalah Jakarta dengan polusinya. Besar harapan saya agar Taman Nasional Baluran ini tetap terjaga sehingga di lain kesempatan saya beruntung untuk dapat bertemu mereka (merak, rangkong ajak beserta jajarannya) dan mengabadikan foto.
Honor mention: Tia Rista kawan lama yang mau berbagi hasil jepretannya.
PUSTAKA
CEFIC. 2013. Biodiversity and Ecosystem Services; What are they all about?. Cefic Aisbl. Belgium.
Darajati W, Pratiwi S, Herwinda E, Radiansyah D A, Nalang S V, Nooryanto B, Rahajoe S J, Ubaidillah R, Maryanto I, Kurniawan R, Prasetyo, A T, Rahim A, Jefferson J, Hakim F. 2016. Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2015-2020. BAPPENAS. Indonesia.







0 komentar